Perjalanan Bisnis. Everything Happens For A Reason

Sejak lulus kuliah, saya tidak pernah mengecap karir bekerja di perusahaan orang lain. Bisa dibilang kepepet, bisa juga dibilang inilah jalan hidup saya.

Saya sudah memperoleh “ijab sah” alias menikah dua tahun sebelum ijasah kelulusan S1 saya terbit. Bahkan ketika sidang skripsi, saya tengah mengandung anak kedua yang kemudian lahir dua minggu sebelum hari saya diwisuda. Setelah lulus kuliah, di saat teman-teman sibuk cari kerja, saya fokus mengurus dua orang balita.

Ketika anak kedua saya berusia 5 bulan, saya pun mulai merasa jenuh dan ingin bekerja seperti teman-teman. Kakak ipar mengajak saya untuk jadi agen asuransi, karena waktunya fleksibel, jadi saya tidak perlu meninggalkan para balita saya sepanjang hari seperti orang kantoran. Di sanalah saya mulai mengenal dunia sales dan bisnis, yang mana sebelumnya saya merasa tidak cocok di dalamnya. Selain teknik berjualan, saya banyak belajar tentang pengembangan diri. Dari yang tadinya ogah dan malu menawarkan sesuatu ke orang lain (apalagi yang tak dikenal), sampai akhirnya bisa closing 3 case dalam sebulan.

Hanya setahun lebih sedikit saya menjalani profesi sebagai agen asuransi. Tahap berikutnya adalah kecemplung dalam dunia direct selling dan Multi Level Marketing alias MLM.

Pada dasarnya, saya adalah orang yang dinamis alias bosenan. Ketika mulai jenuh di asuransi, seorang kawan mengajak saya join bisnis direct selling dari sebuah produk koin emas yang bernama Gold Quest (GQ). Model bisnis binary dengan potensi penghasilan yang menggiurkan membuat saya tertarik bergabung, sampai mengajak ayah saya untuk ikutan dan kami sekeluarga mengeluarkan modal hingga beberapa belas juta demi impian menggapai potensi penghasilan maksimal! Tetapi setelah saya jalani bisnis tersebut hampir setahun, ternyata tak mudah merekrut member sampai menghasilkan dolar.

Meskipun tak memperoleh hasil material, saya menarik banyak pelajaran dari leader-leader di GQ. Beberapa leader di GQ mengajarkan tentang “mind management”, bagaimana mengatur pikiran agar lebih tenang dan mudah mencapai tujuan. Salah satu leader GQ yang saya kenal kemudian menjadi tokoh terkenal dalam hal manajemen pikiran, yaitu mas Nunu alias Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas.

Selah menjalani GQ hampir dua tahun, saya gabung dengan MLM yang bernama Lampe Berger (LB), dengan produk berupa aromaterapi dari Prancis. Khusus MLM ini, sebenarnya saya join karena tertarik dengan produknya yang konon bisa membantu menyembuhkan penderita asma dan alergi debu. Kebetulan suami dan anak kedua saya menderita masalah pernafasan.

Tak disangka sebelumnya, ternyata dari LB saya bisa mencapai penghasilan puluhan juta per bulan dan memiliki jaringan distributor hampir seribu orang, yang beranak pinak dari sekitar 10 orang yang saya rekrut secara langsung. Sayangnya, ada sisi ketamakan dalam bisnis ini, di mana para member yang ingin cepat sukses diberi kesempatan untuk mengambil posisi diskon lebih besar dengan membeli stok banyak sekaligus. Gaya hidup hedon yang secara tak langsung diajarkan oleh para leader di sini pun membuat akhirnya banyak member (termasuk saya dan para downline saya) yang terjerat hutang, mulai dari kartu kredit sampai hutang ke kerabat. Tak cuma jutaan, bahkan ada yang terlibat hutang sampai ratusan juta!

Saya bertahan di LB sampai sekitar 7 tahun. Ketika saya melahirkan anak ketiga di tahun 2007, saya mulai menarik diri dari berbagai pertemuan yang diadakan di LB, karena lebih banyak waktu yang ingin saya gunakan untuk mengurus bayi.

Dari LB pun saya mendapat banyak pelajaran, di antaranya public speaking. Ketrampilan itu saya peroleh secara alami ketika dalam perjalanan dan ketika meraih posisi yang disebut Marquis, di mana pada posisi tersebut biasanya seseorang telah memiliki jaringan downline cukup banyak dan memiliki kewajiban untuk bisa presentasi di panggung. Selain itu saya juga belajar untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Bagaimana tidak, sudah bisa menghasilkan 20juta lebih tiap bulannya, tapi hutang juga menumpuk sampai ratusan juta! Meskipun “hanya” MLM, tapi kita pun harus pandai memisahkan mana modal, mana dana untuk operasional dan juga harus ada yang diinvestasikan. Cukup mahal biaya belajar saya di sini.

Selepas LB, saya masih join beberapa MLM lain, tapi tak ada yang lebih dari tiga bulan. Saya merasa selain LB tidak ada bonding yang kuat dengan para membernya juga produknya yang kurang spesifik atau bahkan manajemen perusahaannya tidak beres.

Saat bosan (lagi) menjalani MLM, saya sempat diajak mantan downline LB untuk menjadi konsultan analisa sidik jari untuk mengenali bakat (Finger Print Analysis). Saya rasa pekerjaan itu menarik dan perlu untuk diterapkan bagi anak-anak saya. Hampir dua tahun saya menjalani profesi itu. Saya sampai hafal bentuk-bentuk sidik jari dan karakter umum dari orang-orang yang memiliki bentuk sidik jari tersebut. Dari profesi itu, saya belajar lebih memahami karakter manusia dan bagaimana deal with it, termasuk menangani sifat-sifat “keras” dari anak-anak saya sendiri. Dari situ juga, saya lebih relaks ketika menyadari bahwa setiap anak memiliki bakat masing-masing, jadi tak perlu risau jika anak kita tak bisa mencapai nilai tinggi di semua mata pelajaran. Karena setiap orang unik, tidak perlu harus jago di semua bidang, dan memang tidak ada manusia yang sempurna bisa melakukan segalanya. Cukup fokus di satu atau beberapa bidang yang menjadi keahliannya, agar menjadi profesional di sana.

Setelah ke sana ke mari, akhirnya saya kembali ke bisnis yang sebenarnya sudah ada sejak saya kecil, yaitu peternakan lebah dan penjualan produk-produknya. Usaha ini sebenarnya bukan bisnis yang diseriuskan oleh orang tua saya. Ayah saya mengawali peternakan lebah di tahun 1980 karena hobi dan dekat dengan lingkungan pekerjaannya yang ketika itu di Perhutani. Singkat cerita, sekarang usaha ini saya tekuni, didampingi suami sebagai partner yang mengelola keuangannya. Dari yang tadinya semua dikerjakan keluarga sendiri, sekarang kami punya beberapa pegawai. Pelanggan yang awalnya hanya teman-teman dekat, sekarang datang dari berbagai penjuru nusantara, berkat kemajuan teknologi informasi alias internet.

Dari seluruh perjalanan bisnis dan pekerjaan yang sudah saya lalui ini, akhirnya saya pun merasa, tak ada pengalaman yang sia-sia. Semua mengajarkan kita untuk menjadi lebih bijak dalam menyikapi hidup. Hidup ini sendiri merupakan perjalanan untuk menemukan tujuan penciptaan kita sambil terus mensyukuri apa yang telah Tuhan titipkan selama dalam perjalanan itu.

5 comments

  1. Howdy! Someone in my Facebook group shared this website with us so I came to take a look.
    I’m definitely loving the information. I’m book-marking and
    will be tweeting this to my followers! Exceptional blog and
    wonderful design and style.

  2. Can I simply just say what a relief to uncover somebody who really understands what they are
    talking about on the internet. You certainly know how to bring a problem to light
    and make it important. More people must look at
    this and understand this side of the story. I
    was surprised that you aren’t more popular given that you certainly possess the gift.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *